Bank Papua Naikkan Dua Kali Lipat Alokasi Program Cegah Stunting
“Kami dari Bank Papua, sesuai dengan komitmen dan amanat undang-undang, wajib menyiapkan anggaran CSR. Besaran dan peruntukannya selalu dibicarakan di dalam forum komite yang diputuskan bersama oleh komisaris, direksi dan divisi terkait,” ujar Matheus Althiberg Mual saat diwawancarai di Aula DPPKB Kabupaten Nabire, Kamis (17/9/2026).

NABIRE - Pemenuhan komitmen alokasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) terus diperkuat oleh PT Bank Papua dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting di Tanah Papua. Pimpinan Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Papua, Matheus Althiberg Mual, menegaskan penyiapan alokasi CSR merupakan kewajiban institusi yang dijalankan secara terstruktur.
“Kami dari Bank Papua, sesuai dengan komitmen dan amanat undang-undang, wajib menyiapkan anggaran CSR. Besaran dan peruntukannya selalu dibicarakan di dalam forum komite yang diputuskan bersama oleh komisaris, direksi dan divisi terkait,” ujar Matheus Althiberg Mual saat diwawancarai di Aula DPPKB Kabupaten Nabire, Kamis (17/9/2026).
Dalam upaya pengentasan stunting, Bank Papua menjalin kolaborasi strategis bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). “Bank Papua berkomitmen bahwa gerakan ini sangat penting dan sejalan dengan amanat pemerintah untuk mencegah stunting,” lanjut Matheus.
Matheus menjelaskan, program intervensi stunting ini diintegrasikan ke dalam payung kegiatan CSR unggulan perusahaan bernama 'SAHABAT Bank Papua'.
“Kami memiliki program CSR yang diakronimkan sebagai SAHABAT Bank Papua, yaitu 'Satu Hati Bangun Tanah Papua Bersama Bank Papua', yang berkomitmen penuh memajukan daerah,” jelasnya.
Ia meyakini bahwa masa depan dan kemajuan Tanah Papua sangat ditentukan oleh kualitas tumbuh kembang generasi penerus sejak usia dini. “Kami percaya Papua ini akan maju jika generasi mudanya kuat, cerdas dan kreatif. Untuk melahirkan generasi seperti itu, syarat utamanya mereka wajib bebas dari stunting,” tegas Matheus.
Berdasarkan hasil evaluasi yang positif, Bank Papua memutuskan untuk melipatgandakan alokasi jumlah penerima manfaat program bantuan pada tahun ini.
“Di tahun lalu kami menyalurkan bantuan melalui BKKBN untuk lebih dari 300 penerima manfaat. Untuk tahun ini, kita naikkan dua kali lipat menjadi 600 penerima manfaat,” ungkapnya.
Keputusan meningkatkan kuota bantuan tersebut diambil setelah melihat adanya dampak medis yang nyata pada kondisi fisik anak-anak penerima program. “Evaluasi kami yang didukung BKKBN menunjukkan hasil yang signifikan baik, ditandai dengan kenaikan berat badan serta pertambahan tinggi badan anak-anak terdampak,” tambah Matheus.
Menjawab tantangan mengenai akurasi penyaluran bantuan agar tepat sasaran, Matheus mengakui pentingnya keterlibatan instansi teknis pemerintah.
“Kami yang bekerja di bidang jasa keuangan tentu tidak memiliki data lapangan yang pasti. Oleh karena itu, kolaborasi dengan BKKBN maupun Dinas Kesehatan sangat kami perlukan,” tutur Matheus.
Akurasi data penerima bantuan diperoleh melalui pendataan berjenjang yang dilakukan secara langsung oleh para petugas pendamping. “Bantuan ini berjalan tepat sasaran karena didukung data riil yang dikumpulkan oleh teman-teman Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PPLKB) langsung di lapangan,” imbuhnya.
Sebagai bentuk dukungan menyeluruh, Bank Papua tidak hanya menyalurkan bantuan asupan gizi, tetapi juga memberikan perhatian kepada para tenaga lapangan.
“Selain menyediakan nutrisi bagi ibu hamil, ibu menyusui dan Balita, kami juga menyiapkan honor operasional bagi para PPLKB yang mengantarkan bantuan langsung ke rumah-rumah penerima manfaat,” pungkas Matheus. (sam)
Bagikan artikel ini



