Lompat ke konten utama
Papuapos Sorong

Pencarian

“Kajian”

111 artikel cocok dengan pencarian Anda.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (16) Kebangsaan Dulu, Setelah itu Wartawan
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (16) Kebangsaan Dulu, Setelah itu Wartawan

NABIRE - Kata independen lawan katanya adalah dependen. Dependen artinya bergantung. Sedangkan independen itu diasosiasikan sebagai sebuah sikap yang mandiri dan mirip sikap netral. Dalam dunia aktivis LSM populer istilah imparsial lawan katanya parsial. Itu juga diasosiasi maknanya hampir sama, yaitu tidak memihak. Ada juga dikenal kata Non-partisan lawannya partisan, itu biasa dikenal pada istilah partai politik.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (13) Jumlah Objek Berita Melebihi Jumlah Ikan di Laut atau Bintang di Langit
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (13) Jumlah Objek Berita Melebihi Jumlah Ikan di Laut atau Bintang di Langit

NABIRE - Kenapa bisa dikatakan bahwa objek berita bagi seorang wartawan sejati bisa melebihi jumlah ikan di laut atau bintang di langit ? Karena benak pikiran manusia (abstraksi) tidak terbatas pada mahiah atau esensi alami, melainkan mengangkut konsep-konsep metafisika. Ketika subjek teologi yang dibahas adalah Tuhan yang metafisis, maka seluruh afirmasinya adalah seluruh sifat-Nya dan seluruh pekerjaan-Nya (af'al). Ketika afirmasi pada-Nya adalah Sang Esa, maka Ketunggalan eksistensi-Nya adalah meliputi segala sesuatu. Mengandung dan menopang segala sesuatu.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (15) Dimensi Profetik Pers Nasional
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (15) Dimensi Profetik Pers Nasional

NABIRE - Sebagai penyampai kabar kepada publik, Pers diharapkan dapat mengambil peran tabligh (si penyampai kabar). Sifat tabligh, bagi seorang nabi juga disertai tiga sifat lainnya; amanah, shidiq dan faathanah. Jadi sudah melekat pada setiap nabi empat karakter dasar tadi, dapat dipercaya, perkataannya benar, orangnya cerdas dan kegiatannya menyampaikan kabar kebenaran tadi. Kira-kira begitulah dimensi Profetik yang diharapkan juga ada pada Pers Nasional.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (12) Unsur Ontologi dalam Pers
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (12) Unsur Ontologi dalam Pers

NABIRE - Seorang wartawan perlu mencapai level pemahaman ilmu hikmat paling tinggi yakni ontologi. Didalamnya kita akan diajak memahami segala sesuatu dari sisi adanya (wujud/eksistensinya). Ada itu berserikat pada segala sesuatu, sehingga dia itu tunggal. Ada itu bertingkat sehingga keberadaannya itu bergradasi, terkheirarki atau terlevelesasi.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (11) Pers dalam Ancaman Besar Disrupsi dan Artificial Intellegence (AI)
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (11) Pers dalam Ancaman Besar Disrupsi dan Artificial Intellegence (AI)

NABIRE - Kerajaan pers cetak telah runtuh digantikan Pers Digital. Persoalannya karakter digital memiliki naluri baru, yakni membuang sekat-sekat fisika dan menggelar dunia maya yang ada di genggaman hape. Tak ada lagi fisika berbentuk tinta dan kertas, hasil proses pressing (printing) atau cetak. Dari tekanan silinder mesin cetak melakukan pressing terhadap plat, maka jadilah cetakan. Dari situ kata Pers berasal mula.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (10) Unsur Epistemologi dalam Pers
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (10) Unsur Epistemologi dalam Pers

NABIRE - Pada hari kesepuluh Kajian Ilmiah Pers, Abdul Munib, menjelaskan unsur epistemologi dalam Pers. Menurutnya, meski pers ada dalam dataran umum dan tidak masuk ke tanah terminologis disiplin ilmu, namun anasir epistemologisnya tetap melekat. Yakni dari sisi pola berfikir deduktif yang mencari penilaian khusus.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (9) Filsafat Pers Bukan Sekedar Cinta Kebijaksanaan
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (9) Filsafat Pers Bukan Sekedar Cinta Kebijaksanaan

NABIRE - Pada makna bahasa kata filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Ini lahir di jaman Filsuf Socrates ketika ia mengalahkan para senator Yunani Helenis yang mendominasi pendapat publik pada zaman itu. Socrates mengalahkan mereka semua dengan prinsip dirinya yang cinta terhadap kebijaksanaan atau hikmat.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (8) Bangsa ini Dilahirkan oleh Pena Pers
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (8) Bangsa ini Dilahirkan oleh Pena Pers

NABIRE - Empat puluh lima tahun sebelum Indonesia merdeka, di era kebangkitan nasional, perjuangan perlawanan bersenjata dirubah ke perjuangan tulisan. Pergerakan kebangkitan nasional dikawal oleh Pena Pers. Bangsa nusantara yang berkarakter gotong royong mempunyai DNA Falsafah Pancasila. Bahkan proklamator Soekarno dan Hatta diadili oleh pemerintah Belanda, karena keduanya menulis di media.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (7) HPN Belum Bertemu Khitah-nya
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (7) HPN Belum Bertemu Khitah-nya

NABIRE - Hari Pers Nasional (HPN) yang kemarin diperingati 9 Februari 2024, belum memahami betul apa yang terjadi pada 9 Februari 1946, delapan dekade yang lalu. Lima bulan setelah dibacakan Proklamasi sebagai tanda Indonesia Merdeka, wartawan Indonesia yang terhimpun dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melakukan terinstensi terhadap kedatangan penjajah. Sejak bulan Oktober 1945 Bangsa Eropa kembali datang di Surabaya untuk menjajah ulang.

Foto berita: Kajian Ilmiah Pers (6) Wartawan Sang Intrepetator
Nabire

Kajian Ilmiah Pers (6) Wartawan Sang Intrepetator

NABIRE - Tiba-tiba kita dikagetkan oleh pernyataan Dahlan Iskan bahwa kebenaran lama berupa fakta dalam pers telah tergantikan dengan kebenaran baru, yakni persepsi. Menurutnya hari ini pers tidak lagi bersama kebenaran lama berupa fakta melainkan persepsi yang kemudian digiring menjadi framing. Namun Munib tak sependapat dengan pernyataan gurunya itu.