NABIRE — Semangat gotong royong mewarnai persiapan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Nabire. Jajaran TNI bersama Polri, Pemerintah Kabupaten Nabire dan masyarakat turun langsung membersihkan sejumlah kawasan yang menjadi ruang publik dan fasilitas penting bagi warga, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan Karya Bakti yang mengusung tema “TNI Peduli Sampah Bersama Masyarakat” tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT TNI, tetapi juga diarahkan untuk mendukung penataan kawasan perkotaan, menjaga kebersihan lingkungan serta mendorong pengembangan potensi wisata di Kabupaten Nabire.

Salah satu sasaran utama adalah kawasan Taman Gizi, Oyehe. Pembersihan kawasan ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan TNI terhadap rencana Pemerintah Kabupaten Nabire menata kawasan tersebut untuk menjadi lokasi relokasi pedagang kaki lima (PKL) dari kawasan Pantai MAF atau Pantai Nabire.

Kepala Seksi Teritorial (Kasiter) Kasrem 173/PVB, Kolonel Inf Fajar Wibawa Angkasa, mengatakan TNI bersama Polri dan pemerintah daerah berkomitmen mendukung kebijakan penataan kota sepanjang bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih tertib dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Hari ini kami beserta TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah melaksanakan kegiatan dalam rangka HUT TNI yang dilaksanakan oleh seluruh jajaran TNI dari Subkorem Nabire. Kami berkolaborasi untuk melaksanakan pembersihan yang nantinya disusul langkah relokasi pedagang dari Pantai MAF menuju Taman Gizi oleh Pemda,” ujar Fajar.

Menurutnya, penataan Taman Gizi akan dilakukan secara bertahap. Selain pembersihan, sejumlah bagian bangunan yang dinilai menghalangi pandangan akan disesuaikan, termasuk penataan panggung dan fasilitas pendukung lainnya.

Dengan penataan tersebut, Taman Gizi diharapkan dapat berubah menjadi kawasan yang lebih bersih, rapi dan nyaman, sekaligus menjadi ruang publik serta pusat kuliner dan UMKM yang dapat menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sementara itu, kawasan Pantai MAF diharapkan dapat ditata kembali setelah relokasi pedagang. Kawasan tersebut memiliki potensi sebagai ruang publik sekaligus destinasi wisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Tiga Titik Jadi Sasaran

Karya Bakti TNI tidak hanya dipusatkan di Taman Gizi. Pembersihan juga dilakukan di kawasan aliran sungai dan Jembatan Bukit Meriam.

Pembersihan di kawasan tersebut dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membantu memastikan aliran air tetap berjalan dengan baik, terutama di tengah kebutuhan penataan kawasan perkotaan.

Sasaran berikutnya adalah Gereja GKII Immanuel Kota Lama. Pembersihan rumah ibadah ini menjadi bagian dari kepedulian sosial TNI sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan toleransi dalam menjaga fasilitas yang digunakan bersama oleh masyarakat.

Koordinator kegiatan, Letda Inf Jerianto Todingdatu, selaku Pasi Ter Brigif TP 82/WKB, mengatakan tiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki fungsi penting bagi masyarakat.

“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya dilaksanakan pada momentum HUT TNI saja, tetapi dapat terus dilanjutkan sebagai agenda rutin bersama TNI-Polri, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan melibatkan personel Yonif 753/AVT, Dendipur 12/OHH, Yonif 804/DBAY, Brigif TP 82/WKB, Lanal Nabire, Kodim 1705/Nabire, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire, Dinas Pariwisata, unsur Polri, DPD BMP RI Provinsi Papua Tengah, DPC BMP RI Kabupaten Nabire, organisasi kemasyarakatan serta warga sekitar.

Karya Bakti tersebut mengusung slogan “Satu Sampah Diangkat, Seribu Harapan Ditumbuhkan: TNI Peduli, Bersih, Sehat, Berjaya”, dengan semangat “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”

Melalui kegiatan ini, TNI mendorong agar kepedulian terhadap kebersihan tidak berhenti pada momentum HUT ke-81 TNI. Kolaborasi antara aparat, pemerintah dan masyarakat diharapkan terus berlanjut untuk membangun budaya hidup bersih sekaligus menciptakan Kabupaten Nabire yang sehat, nyaman, tertib dan berkelanjutan.

Dukungan masyarakat, termasuk para pedagang yang terdampak penataan, juga menjadi bagian penting agar proses penataan kawasan dapat berjalan lancar. Dengan demikian, aktivitas ekonomi masyarakat tetap dapat berlangsung seiring dengan upaya menghadirkan ruang publik yang lebih tertata. (Luk)