Kisah Inspiratif Marsel Asyerem: Pengalaman Masa Kecil Jadi Motivasi Sukseskan MBG di Papua Tengah
“Dulu sebelum saya ada hari ini, saya adalah salah satu anak Papua yang pergi sekolah lapar, tanpa sarapan dan tanpa uang jajan. Pengalaman itu membuat saya semakin semangat mendorong program ini. Bagi saya, generasi baru jangan sampai pergi sekolah lapar dan tidak sarapan seperti saya,” ungkap Marsel.

NABIRE - Pengalaman menempuh pendidikan dengan kondisi perut kosong menjadi salah satu alasan kuat Marsel Asyerem berkomitmen menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Tengah. Kini, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Jumat (23/10/3026).
Bagi Marsel, program MBG bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan pangan bagi peserta didik, tetapi juga menjadi harapan agar anak-anak Papua dapat mengenyam pendidikan dengan kondisi tubuh yang sehat dan kebutuhan gizi yang terpenuhi.
Marsel mengungkapkan, komitmennya terhadap program tersebut berangkat dari pengalaman pribadi semasa kecil. Ia pernah pergi ke sekolah tanpa sarapan, dalam kondisi lapar, bahkan tanpa uang jajan.
“Dulu sebelum saya ada hari ini, saya adalah salah satu anak Papua yang pergi sekolah lapar, tanpa sarapan dan tanpa uang jajan. Pengalaman itu membuat saya semakin semangat mendorong program ini. Bagi saya, generasi baru jangan sampai pergi sekolah lapar dan tidak sarapan seperti saya,” ungkap Marsel.
Pengalaman tersebut menjadi motivasi tersendiri baginya untuk mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kualitas gizi anak-anak, khususnya di Kabupaten Nabire dan wilayah Papua Tengah.
Lahir dan besar di Nabire, Marsel mengawali pendidikan di SD Inpres Topo. Ia juga menceritakan orang-orang yang mengenalnya sejak kecil, termasuk petugas Posyandu, pernah menyebut dirinya mengalami masalah pertumbuhan yang diduga berkaitan dengan kekurangan gizi.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Marsel melanjutkan sekolah di SMP Antonius, kemudian SMK PGRI Nabire, hingga meraih gelar sarjana pada bidang Pendidikan Guru di Universitas Cenderawasih (Uncen).
Perjalanan kariernya pun terbilang beragam. Ia mengawali pengabdian sebagai tenaga pengajar di SD Agape selama dua tahun sebelum bergabung dengan UNICEF, organisasi internasional yang bergerak di bidang perlindungan dan pemenuhan hak anak, dengan fokus pekerjaan di bidang pendidikan.
Marsel kemudian terlibat dalam kegiatan penelitian kesehatan sebagai Koordinator Penelitian HIV/AIDS di Kabupaten Nabire, bekerja sama dengan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.
Pengalamannya berlanjut ke bidang pemerintahan. Ia pernah dipercaya menjadi Sekretaris Pribadi (Sespri) Ketua DPRK Nabire dan mengikuti pendidikan di Sekolah Staf Presiden di Jakarta.
Berbekal pengalaman di bidang pendidikan, kemanusiaan, penelitian dan pemerintahan, Marsel kini mengambil peran dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi melalui Badan Gizi Nasional.
Sebelum bergabung dengan BGN, Marsel mengaku sempat merencanakan untuk melanjutkan studi ke luar negeri guna meningkatkan kapasitas dan mengembangkan karier profesionalnya.
Namun, rencana tersebut berubah ketika datang tawaran dari rekan-rekannya di Kantor Staf Presiden untuk ikut mengawal program pemenuhan gizi di tanah kelahirannya.
Ia akhirnya memilih mengabdikan diri di Nabire dengan harapan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masa depan anak-anak Papua. Keputusan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, dari seorang anak yang pernah bersekolah dalam kondisi lapar hingga kini terlibat dalam upaya memperjuangkan pemenuhan gizi bagi generasi muda.
Selain berbicara mengenai program MBG, Marsel juga menyampaikan pesan motivasi kepada generasi muda Papua, khususnya di Kabupaten Nabire.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi saat ini memberikan kesempatan yang semakin luas bagi anak-anak muda untuk mengembangkan diri, memperoleh pengetahuan dan meraih cita-cita.
“Hari ini sumber informasi terbuka bebas dan luas. Semua anak muda punya kesempatan yang besar dan bisa sukses, tinggal kembali ke diri sendiri mau berjuang atau tidak. Mari kita perbaiki diri, terus tingkatkan kapasitas (upgrade), cari informasi sebanyak-banyaknya dan daftarkan diri di setiap peluang yang ada,” tegasnya.
Marsel menilai, kesempatan untuk maju harus diimbangi dengan kemauan belajar, kerja keras, kedisiplinan serta keberanian mengambil peluang yang tersedia.
Ia berharap generasi muda Papua tidak mudah menyerah pada keterbatasan, melainkan menjadikan tantangan hidup sebagai motivasi untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi daerah.
Melalui pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Nabire, Marsel berharap kebutuhan gizi anak-anak dapat semakin diperhatikan sehingga mereka memiliki kesempatan tumbuh sehat, belajar dengan baik dan meraih masa depan yang lebih cerah.
Baginya, tidak boleh ada lagi anak yang kehilangan kesempatan belajar secara optimal hanya karena berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar. Ia berharap program pemenuhan gizi dapat menjadi salah satu langkah untuk menyiapkan generasi Papua yang sehat, cerdas dan berdaya saing. (luk)
Bagikan artikel ini



