Cerpen : Abdul Munib

Malam tiba seperti biasa. Mengantar manusia ke gelap angkasa. Diantara solekan lampu kota yang hendak memikat hasrat. Menipu kalbu. Seolah segalanya bisa diraih disana.

Kota pertama. Satu tahun dia disana.

Tidur diatas tangga-tangga mesjid yang terbuat dari batu hitam. Sehingga masih terasa hangat saat malam. Melipat badan dalam sarung. Ketika tanggal belasan menjelang purnama, langit dihiasi bohlam besar diatas kepala menghantar tidurnya.

Siangnya masak sendiri dengan bahan bakar minyak tanah yang digantung di botol bekas kecap. Selang kecil menghubungkan botol bekas kecap itu ke kompor. Dari apinya nasi liwet bisa dibikin. Diatas nasi disusun sayur, bumbu dan kelapa parut campur garam. Alat itulah yang menjadi andalan ketika dia harus menembus ibu kota seperti Jakarta.

Lembar kitab kuning per enambelas halaman ditaruh diatas map yang dibuat dari tripleks tipis untuk sekaligus menjadi meja darurat. Bertelekan ketika hendak menulis kode tata bahasa arab dan makna kata.

Dan pegunungan Pati Ayam yang memiliki gua dan tulang belulang gajah purba. Dia dan temannya bermalam di gua itu. Memang ada bau mistik. Bekas kemenyan dibakar. Sobekan-sobekan kertas Porkas. Kholis tetap saja mengikuti lelaki itu menjelajah gunung. Alam rupanya menjadi daya tarik tersendiri baginya. Setelah jadi pemulung selama dua bulan di Jakarta Dia meninggalkan Kholis, saat temannya itu sembayang zuhur di Kota Kudus.

**

Kota kedua adalah kotanya Prabu Jayabaya. Setengah dekade lebih satu tahun dia disana memahami bagaimana tatabahasa Arab, Sastra dan Logika. Kursus jurnalistik di pesantrennya membukakan pintu gerbang baginya ke dunia menulis. Selesai dari sana bahkan ia belum sepenuhnya yakin, seperti kata bapaknya, bahwa santri itu artinya kesatria.

Gadis Proklamasi, yang saat itu muncul di Mingguan Surya Surabaya sebagai tulisan Cerpen pertamanya, barangkali sudah menikah atau punya anak cucu. Di pertengahan dekade 80-an, punya honirarium sebesar Rp 5 ribu sama nilainya sama dengan setengah kwintal gabah padi. Bukan nominalnya melainkan portal yang terbuka dalam lingkungan yang dibatasi benteng. Antara dunia tani keluarganya dan dunia pesantren yang dijalaninya.

Dunia imajinasi itu sebuah planet tersendiri. Bagaiamana Kitab Suci menggambarkan Makanan Zakum, kudapannya ahli neraka, sebagai sesuatu yang seperti Kepala-kepala Setan. Entahlah seperti apa kepala Setan itu, lha wong dengan Setannya sendiri belum pernah ketemu. Dari sanalah dia mengenal dunia pemikiran. Atau dengan bagaimana kehidupan ini diselenggarakan, antara peta jalan Tuhan dan kemerdekaan manusia. Di sisi lain kenyataannya menusia menafsir dan banyak orang berbondong mengekor di penafsiran itu. Dia paham bahwa mulut orang-orang yang bicara torikot, makrifat dan hakikat hanya omong koaong saja. Gampang di teori susah di prakteknya. Ketika aku tetap menyisa seolah ada.

**

Lalu Surabaya menjadi kota ketiganya. Sekitar hanya tiga tahun saja dia disana. Untuk berlatih melemaskan lidah agar fasih berkata mboke Jiancuk. Sesekali belajar ngremo dan syair ludruk. Bonek dan kepahlawanan 10 November 1945 melawan Inggris-Belanda, disini rasanya beda-beda tipis. Dia jatuh cinta dengan karakter egaliter yang dimiliki Surabaya.

**

Akhirnya ia terlempar ke perantauan ujung paling Timur Negerinya. Dan dia masih disana. Entah sampai kapan. Menunggu angin bertiup. Dan masuk ke dalamnya sebagai badai kesadaran.

**

Tentang sebuah kota yang menjadi subjek utama seluruh pemikirannya. Karbala. Di kota itu seseorang pernah dilukai sedemikian dahsyatnya. Mumammad dan keluarganya disakiti, dilecehkan, dipermalukan di depan peradaban manusia. Dan praktik itu masih dilanjutkan oleh manusia yang mendukungnya hingga sekarang. Dalam diam. Dalam gelap mendung indoktrinasi, hoax, framing, sinisme dan kebencian.

Sesekali langit bukan lagi tempat tengadah. Tapi dilipat dalam benaknya. Bukan dengan ego kesombongan. Melainlan dengan meleburkan diri kedalam gerak eksistensi mutlak. Membiarkan jiwanya melebur dalam kehendak Adi Kodrati yang tak bisa disangkal. Dalam rahmat yang mendahului segala sesuatu. Dia teringat Rasulullah. Seorang kakek yang cucunya dipersekusi oleh orang yang memgaku sebagai umatnya.

Bagi setiap manusia yang pernah dilukai. Tak pernah ada luka paling dahsyat selain Karbala.

*

Istrinya bertanya.

"Apa lukamu sudah sembuh?"

"Sudah. Kau bukan saja telah mengobati. Tapi kau adalah obat itu sendiri."

"Enak aja aku disamakan apotek."

Istrinya bergurau.

Dia kemudian melanjutkan ucapannya.

"Sebenarnya sakit itu predikat yang disandarkan kepada subjek aku. Tapi kebanyakan orang lupa memverifikasi apakah aku yang mereka akui itu benar-benar eksis. Atau hanya eksistensi pemberian saja dari Sang Maha Eksis."

"Lalu kalau adanya manusia tidak eksis, bagaimana mungkin Tuhan menuntut pertanggung-jawaban kita di akhirat." Istrinya menyanggah.

"Disini lah harus membangun pemahaman bahwa eksistensi itu berlevel. Pada batu ada eksistensi unsuriyah. Pada pohon ada eksistensi nabatiah. Pada binatang ada eksistensi hayawaniah. Dan pada manusia ada eksistensi insaniah atau aqliah. Pada eksistensi insaniah inilah berlaku kemerdekaan memilih dan penuntutan tanggung--jawab masing-masing di hadapan Tuhan."

"Jadi sumber rasa sakit itu dari merasa ada aku, begitu?"

"Yes right. Sebuah pertanyaan sering kali berupa terbukanya pemahaman kepada pemahaman yang lebih mendalam."

"Tapi kau tidak akan melukai aku kan ?"

Dia tak menjawab. Dipeluknya istrinya dengan pelukan yang erat. Karena terkadang ada jenis pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban kata-kata.

"Satu pertanyaan lagi boleh ?" Isterinya berpikir cukup berat untuk menyusun pertanyaan.

"Ini jikalau. Maksudnya seumpama saya dipanggil Tuhan duluan. Apa kamu akan kawin lagi ?"

Dia menatap iaterinya. Lalu melanjutkan pelukannya. Seraya berkata.

"Jawabannya masih soal yang sama seperti tadi. Soal rasa memiliki. Memiliki itu predikat. Subjeknya tetap saja aku. Aku punya. Ketika klaim aku itu terus berlanjut. Sedangkan aku diri kita hakikatnya hanya pemberian dari Sang Aku Mutlak yaitu Tuhan. Sebuah pasangan yang layak adalah teman seperjalanan dalam mencari ridha atau perkenaan Tuhan. Yang harus diupayakan dengan kerelaan kita atas semua ketentuan Tuhan yang terjadi pada hidup kita."

Sebelum kata-kata panjangnya tadi selesai, isterinya sudah terlelap tidur dan bunyi ngoroknya mulai terdengar. Dia membiarkan isterinya memasuki alam barzah subjektifnya. Pelan-pelan dia melepas pelukannya. Ingin menggunakan waktu sisa sebelum subuh. Potongan dari cuilan malam yang akan baik untuk digunakan tahajud barang sebentar. Karena kalau lanjut tidur subuhnya kebablasan.

***